Malam ini, menjadi malam penantian menuju detik demi detik ulangtahunku yang berbeda.
Bismillah...
Insyaallah, kamu orangnya habibie.
Kamu yang akan menjadi pintu ridha ku kelak.
Kamu yang akan menjadi pentuntunku menuju iman yang lebih baik.
Kamu, calon imamku.
Bie, sayangi aku terus menerus.. tambah menambah.. luas meluas.
Jangan bosan menjadi pendengar keluhku, menjadi pelepas laraku.
Berjanjilah untuk saling yang lebih sering. Berjanjilah untuk terus memahami satu sama lain.
Aku menyayangimu, itu pasti. Dan mulai kemarin, hari ini, esok dan seterusnya.. aku taruhkan bahagiaku di pelukmu, aku taruhkan teduhku di matamu.
Aku butuh kamu.
Kamu yg akan menjadi alasanku tetap kuat diantara lemahku.
Kamu yg akan menjadi alasanku tetap tersenyum diantara semua sedihku.
Aku ingin kamu.
Aku sering memikirkan kamu, memikirkan kita. Aku sering tak mampu berkata, maka lebih baik aku tuliskan saja
Jumat, 25 November 2016
Minggu, 11 September 2016
Bagian Ketakutanku
Kemarin, betapa aku takut kehilanganmu.
Pikiranku disibukkan oleh hal hal yang menakutkan, bagaimana jika kita tak lagi ada?
Padahal seharusnya aku sadar, abadi memang tidak pernah ada. Tapi untukmu, setidaknya aku ingin bersama selama yang aku bisa.
Saat ketakutan memenuhi isi kepalaku, aku menemui Tuhanku. Memperbincangkan kamu denganNya.
MemintaNya agar aku dan kamu saling memantaskan satu sama lain.
Agar aku dan kamu tidak saling meninggikan ego, melainkan sibuk memahami.
Ketika salah satu dari kita dipeluk amarah, berjanjilah.. pergi bukan menjadi pilihan.
Ketika salah satu dari kita dirundung kecewa, berjanjilah.. pergi bukan menjadi pilihan.
Aku dan kamu, sibuklah saling mendengarkan bukan berbicara paling kencang.
Aku dan kamu, sibuklah saling menatap lebih dalam bukan memalingkan pandangan.
Karena aku tak mau lagi kehilangan, apalagi yang seperti kamu.
Maafkan semua kelemahan dan kekurangan aku, bukan mauku. Mungkin itu tujuan Tuhan mengirimkanmu, memperbaiki aku.
Karena aku tak mau kita saling menyesal, setelah keadaan bukan lagi milik kita.
Maafkan semua sikap dan sifat aku, terlepas dari aku manusia biasa, aku juga wanita yang tak pandai mengucap kata.
Aku sayang kamu bie, jangan pergi.
Pikiranku disibukkan oleh hal hal yang menakutkan, bagaimana jika kita tak lagi ada?
Padahal seharusnya aku sadar, abadi memang tidak pernah ada. Tapi untukmu, setidaknya aku ingin bersama selama yang aku bisa.
Saat ketakutan memenuhi isi kepalaku, aku menemui Tuhanku. Memperbincangkan kamu denganNya.
MemintaNya agar aku dan kamu saling memantaskan satu sama lain.
Agar aku dan kamu tidak saling meninggikan ego, melainkan sibuk memahami.
Ketika salah satu dari kita dipeluk amarah, berjanjilah.. pergi bukan menjadi pilihan.
Ketika salah satu dari kita dirundung kecewa, berjanjilah.. pergi bukan menjadi pilihan.
Aku dan kamu, sibuklah saling mendengarkan bukan berbicara paling kencang.
Aku dan kamu, sibuklah saling menatap lebih dalam bukan memalingkan pandangan.
Karena aku tak mau lagi kehilangan, apalagi yang seperti kamu.
Maafkan semua kelemahan dan kekurangan aku, bukan mauku. Mungkin itu tujuan Tuhan mengirimkanmu, memperbaiki aku.
Karena aku tak mau kita saling menyesal, setelah keadaan bukan lagi milik kita.
Maafkan semua sikap dan sifat aku, terlepas dari aku manusia biasa, aku juga wanita yang tak pandai mengucap kata.
Aku sayang kamu bie, jangan pergi.
Rabu, 13 Juli 2016
Dengarkan Ini ..
Teruntukku dan teruntuk kamu..
Semoga kita semakin menyederhanakan komunikasi.
Bukan lagi sepasang penebar "kode", atau bersembunyi dibalik kata "gapapa".
Semoga kita lebih sibuk mengalah, daripada mencari siapa yang bersalah.
Semoga kita semakin pandai menegur dengan cara yang baik, bukan lagi menuduh siapa yang paling egois dan tersakiti.
Karena percayalah, kita sepasang yang saling menyayangi. Tak ada diantara kita yang berniat menyakiti. Hanya karena kita manusialah, terkadang ego itu hadir dan mendominasi.
Perbaiki aku dengan cara mengingatkanku dengan santun, begitupun sikapku terhadapmu.
Semoga dengan begitu, "Kita" akan selalu ada dan semakin mendewasa.
Amin..
Selasa, 14 Juni 2016
Jangan Hilangkan Dia
"Jangan pernah hilangkan dia dalam hidupku," kurang lebih ini doaku malam ini.
Aku ga mau kehilangan kamu bie, aku ga mau kehilangan 'kisah kita'.
Telah mengertikah kamu? Jika setiap tetes air mata yang jatuh, adalah karena aku takut kehilangan kamu.
Aku ingin memenuhi buku hidupku, dengan coretan cerita bersama ukiran namamu.
"Ary Nuryanto", kali ini ku sebut dengan jelas namamu dalam doaku. Agar Tuhan tak lagi meragukan inginku untuk selalu bersamamu.
Sampai semesta merestui, maukah kamu berjanji untuk terus menjagaku dan kisah kita?
Tuhan, jangan hilangkan dia.. karena mungkin hanya dia sosok yang bisa membuatku seperti ini, yang mungkin tak akan pernah bisa tergantikan oleh siapa pun. Dan, tak ingin aku gantikan posisinya oleh siapa pun.
Tuhan, Jangan hilangkan rasa sayangnya untukku, begitupun.. jangan hilangkan rasa sayangku untuknya.
Kamu masih ingat, malam yang membuatku mengatakan "aku takut mengecewakanmu"?
Aku memang tidak mau menyakitimu, karenanya aku menjauhi hal-hal yang aku takutkan akan membuatmu pergi.
Lagi-lagi, ini hanya karena aku takut kehilangan kamu.
Maafkan aku yang belum mampu menjadi yang terbaik bagimu. Maafkan aku yang memiliki banyak kurang untuk mampu melengkapimu.
Aku berjanji untuk terus belajar memperbaiki diri, untuk kamu, untuk kita.
Maafkan aku yang belum mampu menjadi yang terbaik bagimu. Maafkan aku yang memiliki banyak kurang untuk mampu melengkapimu.
Aku berjanji untuk terus belajar memperbaiki diri, untuk kamu, untuk kita.
Hay semesta, buatlah kami menjadi pelengkap satu sama lain.
Buatlah kami menjadi pengingat satu sama lain, buatlah kami untuk terus saling memperbaiki. Buatlah hubungan ini, membawa kebaikan. Kebaikan yang tidak hanya untukku atau pun dia, tapi untuk setiap orang disamping kami.
Tuhan, mampukan kami untuk terus saling berbagi tangis dan tawa.
Sungguh.. izinkan aku menjadi orang yang pertama kali kamu peluk ketika sendu itu hadir. Orang yang pertama kali kamu berikan senyum, saat kebahagiaan itu datang.
Tuhan, aku mohon jangan hilangkan dia. Jangan hilangkan "kita" antara aku dan dia.
Selasa, 24 Mei 2016
Tuhan, aku mau dia ...
Hei, terimakasih untuk waktu, tenaga, biaya dan segalaaanya yang telah kamu upayakan untukku.
Bukan hanya untuk hari ini, tapi sedari awal kamu mendekatiku (hahahaaa :p)
Aku bahagia. Berhenti mengatakan, kamu gagal membahagiakanku. Sungguh itu aku tidak suka, melebihi ketidaksukaanku terhadap bubur.
Aku bahagia, entah apa alasannya. Mungkin selama itu denganmu, semuanya akan terasa menyenangkan dan baik-baik saja.
Kemarin itu, perjalanan yang begitu melelahkan, sampai-sampai kamu menemukanku tertidur seperti ...
ah sudahlah -_-"
ah sudahlah -_-"
![]() |
| foto: pinterest.com |
Kamu mungkin pernah menemukanku terdiam. Ku akui, kala itu aku tengah bergumam dalam hati.
“Tuhan, aku mau dia ... ”
Aku mau kamu, menjadi pendampingku, belajar bersama tentang agama, lalu berlomba-lomba mengamalkannya.
Aku menjaga amanahmu, kamu menjaga amanahku.
Aku mau kamu, seseorang yang kelak ku panggil ayah dihadapan anak-anak kita, mengajarkan mereka bahwa hidup jangan melaju monoton.
Aku menjaga ridhamu, kamu menjaga ridhaku.
Aku mau kamu, seseorang yang terus menggenggam dan mengelus kepalaku seraya mengucap “sayang”, hingga tubuh ini merenta, hingga rambut ini memutih.
Aku menjaga kamu, kamu menjaga aku.
Namun, kemudian aku tersadar, betapa malunya aku yang memohon begitu banyak dan menyakitiNya begitu dalam.
Mungkin malaikat disampingku berkata
“hey dengar si pendosa ini, masih saja meminta kepada Tuhan yang disakitinya,” dengan terkekeh kekeh dia menertawakanku, seolah aku si pendosa tak punya malu, yang masih saja meminta bantuanMu.
“hey dengar si pendosa ini, masih saja meminta kepada Tuhan yang disakitinya,” dengan terkekeh kekeh dia menertawakanku, seolah aku si pendosa tak punya malu, yang masih saja meminta bantuanMu.
Tuhan..
Ternyata, aku si makhluk lemah yang tak mampu berbuat apa-apa, dan melawan segalanya.
Tuhan, aku mau dia.
Masih bisakah aku dan dia memperbaiki semuanya? Memantaskan satu sama lain untuk kemudian bersujud dan mengamini doa bersama.
Rabu, 11 Mei 2016
Saat Masa Itu Habis
Hey, selamat pagi kamu..
Sudahkah mengirimiku ucapan selamat pagi seperti biasa, yang
selalu kau lakukan saat membuka mata?
Kalau belum, tak apa. Aku mengerti, kamu pasti lelah karena
selalu menemaniku hingga larut malam, melakukan perjalanan puluhan kilometer
setiap hari diantara kemacetan ibu kota.
Terimakasih. Itu sudah lebih dari cukup.
Sedang apa kamu?
Membuka facebook? Membalas whatsapp? Atau tengah membuka
browser?
(Pastinya membuka browser, jika kamu tengah membaca tulisan ini ya, hehehe)
(Pastinya membuka browser, jika kamu tengah membaca tulisan ini ya, hehehe)
Entahlah, apapun itu.. aku hanya berharap pagi ini kamu
memulai harimu dengan bijaksana.
Bie,
aku tak akan pernah mampu menjagamu selamanya.
Ragaku terbatas, jiwaku terbatas, suatu saat masaku akan
habis.
Aku sering membayangkan ini.
Bagaimana jika aku sudah tak mampu lagi memperhatikan dan
menjagamu?
Aku mengkhawatirkanmu.
Karenanya, aku membuat halaman demi halaman kisah kita.
Ku tahu,
aku mengerti, tak akan ada yang pernah abadi. Termasuk raga ini.
Setidaknya kelak, saat kamu membaca setiap halaman ini, kamu tahu ada seseorang yang menyayangimu seperti aku, ada seseorang yang telah jauh jauh hari menitipkanmu pada yang Maha Abadi.
Dan semoga dalam setiap perapalan katanya, membuat aku, seketika ada.
Aku sering meminta Tuhan untuk tetap menjaga
hatimu untuk terus memperbaiki diri.
Aku ingin kamu selamat, itu saja.
Meski aku tak sempurna, namun aku ingin menyempurnakan
kisahmu bie.
Aku ingin kau jauh lebih baik dan lebih baik, bukan untukku, tapi untukmu, untuk setiap kisahmu yang mungkin akan kamu lalui tanpa aku.
Mungkin saat itu, kamu sudah dilindungi anakmu, anak kita, hihiii :)
Bie,
Aku ingin mampu selalu
menjagamu, meski raga tak lagi ada.
Maka tak ada jalan lain, selain meminta kepada Tuhan kita yang begitu Pemurah dan Penyayang.
Tuhan yang mempunyai maaf yang lapang, padahal kita hanyalah sepasang pendosa.
Tuhan yang membuat kisah ini ada.
Maka tak ada jalan lain, selain meminta kepada Tuhan kita yang begitu Pemurah dan Penyayang.
Tuhan yang mempunyai maaf yang lapang, padahal kita hanyalah sepasang pendosa.
Tuhan yang membuat kisah ini ada.
Eh, maaf ya pagi-pagi udah cerita horror, hehheee.
Sudah, sudah... aku masih ada dan akan selalu ada, Insya Allah.
Selamat pagi, selamat bekerja!!
Semoga selalu semangat dan menyenangkan, Bismillah.
Aku sayang kamu.
Kamis, 05 Mei 2016
Bagian Pengharapan
Aku sayang kamu..
Entah sudah berapa kali kalimat ini kau dengar dariku.
Kau tau?
Diam-diam, seringkali aku berterimakasih kepada Tuhan yang telah mempertemukanku denganmu.
Dan diam-diam pula aku seringkali mengucap doa, saat mata kita saling terpaut dalam diam.
Kedekatan denganmu adalah bukan sesuatu yang aku rencanakan.
Karenanya, aku percaya ada campur tangan Tuhan disini.
Seperti layaknya sebuah rencanaNya yang selalu indah.
Aku berharap, tulisan tulisan denganmu akan selalu berisi narasi yang indah.
Aku berharap, tak ada lagi air mata karena kebodohan yang
hanya akan melahirkan penyesalan.
Aku berharap, kita akan selalu menjadi kita.
Seumur hidup, hingga salah satu dari kita menghembuskan
nafas terakhir.
Aku berharap, kita akan menjadi sepasang manusia yang sibuk saling memperbaiki bukan menyalahkan.
Sepasang manusia yang sibuk saling menuntun bukan menuntut.
Semoga kita adalah sepasang manusia yang selalu keras kepala untuk tetap menjadi "Kita".
Senin, 02 Mei 2016
Seketika Aku Ingin
![]() |
| foto: http://www.magic4walls.com/ |
Seketika aku ingin menjadi tanah yg kau pijak,
selalu tau kemana arah yang kau ambil.
Hingga tak perlu lagi ku sematkan ribuan tanda tanya,
tentang apa yang sedang ingin kau jalani.
Seketika aku ingin menjadi langit yang kau lihat.
Hingga aku selalu tau tentang apa yang membuatmu risau atau tersenyum.
Seketika aku ingin menjadi semua yang ada di sekitarmu.
Hingga selalu bisa ku menatap mata yang mampu tenangkanku itu.
Seketika aku ingin menjadi semua yang ada di dekatmu.
Hingga mampu ku pastikan, kau telah bahagia bersamaku.
Selasa, 26 April 2016
Ada yang Ingin Aku Sampaikan
Aku menuliskan ini dalam keadaan hati yang tak mampu menjabarkan perasaannya.
Aku menuliskan ini ketika aku membayangkan kamu, berulang kali menorehkan luka.
Aku menuliskan ini dalam sebuah pertanyaan besar yg bersarang di kepala.
"Apakah kamu tidak mengingatku ketika dengan sengaja bertemu, dan bercumbu dengan dia yang lain?"
Membayangkan kamu yang ternyata mendustaiku.
Membayangkan kamu diam diam menghubunginya saja, aku tidak sanggup.
Apalagi.... ah sudahlah, itu sudah terjadi.
Nyatanya, ada sakit yang tak bisa aku pungkiri.
Ada kecewa yang tak bisa aku sangkali.
Aku menuliskan ini, dalam sepi yang berbalut resah.
Akankah kamu melakukan kesalahan yang sama?
Mampukah kamu menjaga apa yg seharusnya kau jaga?
Tak inginkah kamu hidup bersama, hingga tangis kematian mengiringi kepergian salah satu diantara kita?
Bohong jika aku baik baik saja.
Bohong jika aku tidak takut kejadian ini berulang.
Aku takut kehilangan kamu Bie.
Aku menuliskan ini ketika aku membayangkan kamu, berulang kali menorehkan luka.
Aku menuliskan ini dalam sebuah pertanyaan besar yg bersarang di kepala.
"Apakah kamu tidak mengingatku ketika dengan sengaja bertemu, dan bercumbu dengan dia yang lain?"
Membayangkan kamu yang ternyata mendustaiku.
Membayangkan kamu diam diam menghubunginya saja, aku tidak sanggup.
Apalagi.... ah sudahlah, itu sudah terjadi.
Nyatanya, ada sakit yang tak bisa aku pungkiri.
Ada kecewa yang tak bisa aku sangkali.
Aku menuliskan ini, dalam sepi yang berbalut resah.
Akankah kamu melakukan kesalahan yang sama?
Mampukah kamu menjaga apa yg seharusnya kau jaga?
Tak inginkah kamu hidup bersama, hingga tangis kematian mengiringi kepergian salah satu diantara kita?
Bohong jika aku baik baik saja.
Bohong jika aku tidak takut kejadian ini berulang.
Aku takut kehilangan kamu Bie.
Jumat, 22 April 2016
Bagian Permohonan
Hey, sedang apa kamu?
Malam tadi, aku diam diam mendoakanmu
Aku yakin meski dengan tanpa suara, Tuhan mampu
mendengarnya.
Dan ku harap, DIA akan segera mengabulkannya.
![]() |
| sumber foto: iszlam.com |
“Aku berharap, semoga kamu menjadi yang terakhir.
Semoga kamu terus selalu menyayangi aku.
Semoga kita terus mampu saling melengkapi
Semoga kita akan terus berjalan berdampingan.
Semoga apapun permasalahan yang kelak kita hadapi,
tak
membuat kita saling menyakiti bahkan meninggalkan.
Tuhan, aku menyayanginya. Jaga hatinya hanya untukku,
begitupun juga aku.
Tuhan, buat seluruh semesta merestui kami.
Ijinkanlah kami, dua orang yang penuh dosa ini untuk terus
saling mengingatkan dan memperbaiki.
Ijinkanlah kami, dua orang yang jauh dari sempurna ini untuk
terus saling menyayangi dan menjadi arah pulang untuk satu sama lain".
Amin.
Selasa, 19 April 2016
Bagian Pertanyaan
Untukmu, seseorang yang kerap aku perbincangkan dengan Tuhan.
Izinkan aku menyayangimu dengan sederhana.
Mungkin hanya dengan sedikit mengingatkan kamu tentang
sajadah yang sudah lama rindu sujudmu, bahkan mungkin rindu air matamu.
Izinkan aku menyayangimu dengan sederhana.
Mungkin aku tak akan banyak bicara, aku hanya lebih banyak berpikir
bagaimana cara membahagiakanmu melalui keadaaanku yang terbatas.
Bolehkah aku menyayangi kamu dengan sederhana?
Mungkin hanya dengan memasakanmu makanan seadanya, atau
hanya dengan mengusap pundakmu ketika ku tahu kamu begitu lelah.
Bolehkah aku menyayangi kamu dengan sederhana?
Melalui peluk yang selalu ingin aku lakukan ketika bersama kamu.
Melalui peluk yang selalu ingin aku lakukan ketika bersama kamu.
Bolehkah aku menyayangi kamu dengan sederhana?
Melalui namamu yang tak pernah alpa aku sebutkan diam-diam
di dalam doaku.
Bolehkah aku menyayangimu dengan caraku, Bie
Minggu, 10 April 2016
Kebahagiaan Itu..
Hitungan detik yang berubah menjadi menit, berubah menjadi hari.. minggu.. kemudian bulan.
Awal yang begitu banyak rintangan ya?
Apakah kamu menyadari itu? Atau hanya aku?
Aku bahagia bersamamu,
ku harap kamu mampu merasakan itu.
Setiap persoalan kita hadapi bersama, aku yang hatinya mudah terpengaruh jelas menjadi sosok yang emosinya tidak stabil kemarin.
Semoga kamu memaklumi.
Ada cemburu yang hinggap, ada takut yang kian mendekap.
Aku menyayangi kamu, aku ingin yang mampu membahagiakanmu. Hanya aku.
Persoalan terus datang, mencoba kita yang InsyaAllah serius,
Bukankah untuk menikah memang akan melalui cobaan?
Agar kita lebih kuat nanti, agar kita mampu lebih mengerti satu sama lain.
Jadi bagaimana? Sudahkah kamu mengerti aku?
Mampukah aku menerima segala tentangmu?
Seperti tulisanku di facebook, kita tak perlu banyak bicara.
Lihat saja nanti :)
Aku selalu berusaha meyakini, segalanya berjalan atas kehendakNya.
Kehadiran kamu, sikap kamu, perubahan kamu.
Allah yang menggerakkan hati kamu.
Kamu percaya setiap orang yang hadir dalam hidup kita membawa pesan?
Semoga aku adalah yang dititipkan pesan kebahagiaan untukmu. Amin.
Rabu, 06 April 2016
Halaman Kedua
Waktu terus berjalan, dan kita semakin dekat. Jauh lebih dekat.
Aku kini hanya milikmu, entah.. apakah kamu juga bersedia hanya menjadi milikku?
Hitungan hari, bulan,, kita bersama.
Permasalahan hadir dariku atau entah darimu, atau mungkin dari seseorang yang lain.
Kau berkata, aku istimewa dan wanita sepertiku hanya satu.
Setelah kejadian itu, kejadian yang membuat aku kembali kecewa.
Aku mencoba memahami keadaannya.
Aku mencoba untuk tetap memahami kamu. Semoga aku tidak salah memahami kali ini.
Aku kini hanya milikmu, entah.. apakah kamu juga bersedia hanya menjadi milikku?
Hitungan hari, bulan,, kita bersama.
Permasalahan hadir dariku atau entah darimu, atau mungkin dari seseorang yang lain.
Kau berkata, aku istimewa dan wanita sepertiku hanya satu.
Setelah kejadian itu, kejadian yang membuat aku kembali kecewa.
Aku mencoba memahami keadaannya.
Aku mencoba untuk tetap memahami kamu. Semoga aku tidak salah memahami kali ini.
Bagian dari Halaman Kedua
Hari itu, hari dimana dia memberitahuku sesuatu yang kalian sembunyikan dariku.
Bohong jika aku baik-baik saja
Aku kecewa, "Kenapa kamu melakukan ini," tanyaku padamu yang ketika malam itu menemuiku.
Kamu menemuiku hanya sebentar, namun setelah aku menangis di pelukanmu waktu itu bertambah dan terus bertambah.
Dengan tangan yang gemetar, dengan suara yang berat, kamu menemuiku.
Aku tau kamu juga tidak baik-baik saja.
Aku menanyakanmu beberapa hal, sampai jawaban itu meruncing pada satu hal "nafsu" katamu.
Kamu menjelaskan padaku semuanya, sementara dia memang hanya menjelaskanku sebagian.
Aku menyayangi kamu bie.
Aku memelukmu malam itu, memastikan bahwa aku tetap rumah dan arahmu pulang, aku masih menerimamu.
Hari itu, kamu berjanji padaku.
"Kamu mau sampai kapan kaya gitu?"
"Sampai kemarin," janjimu.
**
Esoknya, kamu tidak lagi berbohong dan menunjukkan betapa munafiknya dia. Seolah kamu yang begitu menginginkannya, padahal aku mendengarnya, dia yang meminta bertemu dan dia yang begitu mencoba menggodamu.
Bohong jika aku baik-baik saja
Aku kecewa, "Kenapa kamu melakukan ini," tanyaku padamu yang ketika malam itu menemuiku.
Kamu menemuiku hanya sebentar, namun setelah aku menangis di pelukanmu waktu itu bertambah dan terus bertambah.
Dengan tangan yang gemetar, dengan suara yang berat, kamu menemuiku.
Aku tau kamu juga tidak baik-baik saja.
Aku menanyakanmu beberapa hal, sampai jawaban itu meruncing pada satu hal "nafsu" katamu.
Kamu menjelaskan padaku semuanya, sementara dia memang hanya menjelaskanku sebagian.
Aku menyayangi kamu bie.
Aku memelukmu malam itu, memastikan bahwa aku tetap rumah dan arahmu pulang, aku masih menerimamu.
Hari itu, kamu berjanji padaku.
"Kamu mau sampai kapan kaya gitu?"
"Sampai kemarin," janjimu.
**
Esoknya, kamu tidak lagi berbohong dan menunjukkan betapa munafiknya dia. Seolah kamu yang begitu menginginkannya, padahal aku mendengarnya, dia yang meminta bertemu dan dia yang begitu mencoba menggodamu.
Jumat, 04 Maret 2016
Halaman Pertama
Ini tentang kamu..
Pertemuan di sebuah kotak yang mereka sebut 'kantor'.
Aku melihatmu, mengenalimu sebagai seseorang yang diberikan tugas membenarkan hardware atau software yang bermasalah.
Kamu, yang kala itu menggunakan kacamata tebal mampu menyita perhatianku.
Aku memperhatikan, kacamata tebal yang seolah kamu begitu menyukai layar digital.
Aku memperhatikan, kehadiranmu yang selalu menghadirkan gelak tawa.
Aku memperhatikan, cincin sederhana yang melingkar di jari kiri tanganmu.
Aku saat itu hanya memperhatikan seseorang yang aku kagumi, seseorang yang begitu ceria dan hangat. Kamu.
Pertemuan di sebuah kotak yang mereka sebut 'kantor'.
Aku melihatmu, mengenalimu sebagai seseorang yang diberikan tugas membenarkan hardware atau software yang bermasalah.
Kamu, yang kala itu menggunakan kacamata tebal mampu menyita perhatianku.
Aku memperhatikan, kacamata tebal yang seolah kamu begitu menyukai layar digital.
Aku memperhatikan, kehadiranmu yang selalu menghadirkan gelak tawa.
Aku memperhatikan, cincin sederhana yang melingkar di jari kiri tanganmu.
Aku saat itu hanya memperhatikan seseorang yang aku kagumi, seseorang yang begitu ceria dan hangat. Kamu.
Langganan:
Postingan (Atom)









