Minggu, 11 September 2016

Bagian Ketakutanku

Kemarin, betapa aku takut kehilanganmu.
Pikiranku disibukkan oleh hal hal yang menakutkan, bagaimana jika kita tak lagi ada?
Padahal seharusnya aku sadar, abadi memang tidak pernah ada. Tapi untukmu, setidaknya aku ingin bersama selama yang aku bisa.

Saat ketakutan memenuhi isi kepalaku, aku menemui Tuhanku. Memperbincangkan kamu denganNya.
MemintaNya agar aku dan kamu saling memantaskan satu sama lain.
Agar aku dan kamu tidak saling meninggikan ego, melainkan sibuk memahami.

Ketika salah satu dari kita dipeluk amarah, berjanjilah.. pergi bukan menjadi pilihan.
Ketika salah satu dari kita dirundung kecewa, berjanjilah.. pergi bukan menjadi pilihan.

Aku dan kamu, sibuklah saling mendengarkan bukan berbicara paling kencang.
Aku dan kamu, sibuklah saling menatap lebih dalam bukan memalingkan pandangan.


Karena aku tak mau lagi kehilangan, apalagi yang seperti kamu.
Maafkan semua kelemahan dan kekurangan aku, bukan mauku. Mungkin itu tujuan Tuhan mengirimkanmu, memperbaiki aku.

Karena aku tak mau kita saling menyesal, setelah keadaan bukan lagi milik kita.
Maafkan semua sikap dan sifat aku, terlepas dari aku manusia biasa, aku juga wanita yang tak pandai mengucap kata.

Aku sayang kamu bie, jangan pergi.