Selasa, 26 April 2016

Ada yang Ingin Aku Sampaikan

Aku menuliskan ini dalam keadaan hati yang tak mampu menjabarkan perasaannya.
Aku menuliskan ini ketika aku membayangkan kamu, berulang kali menorehkan luka.
Aku menuliskan ini dalam sebuah pertanyaan besar yg bersarang di kepala.
"Apakah kamu tidak mengingatku ketika dengan sengaja bertemu, dan bercumbu dengan dia yang lain?"
Membayangkan kamu yang ternyata mendustaiku.
Membayangkan kamu diam diam menghubunginya saja, aku tidak sanggup.
Apalagi.... ah sudahlah, itu sudah terjadi.
Nyatanya, ada sakit yang tak bisa aku pungkiri.
Ada kecewa yang tak bisa aku sangkali.


Aku menuliskan ini, dalam sepi yang berbalut resah.
Akankah kamu melakukan kesalahan yang sama?
Mampukah kamu menjaga apa yg seharusnya kau jaga?
Tak inginkah kamu hidup bersama, hingga tangis kematian mengiringi kepergian salah satu diantara kita?
Bohong jika aku baik baik saja.
Bohong jika aku tidak takut kejadian ini berulang.


Aku takut kehilangan kamu Bie.

Jumat, 22 April 2016

Bagian Permohonan

Hey, sedang apa kamu?

Malam tadi, aku diam diam mendoakanmu
Aku yakin meski dengan tanpa suara, Tuhan mampu mendengarnya.
Dan ku harap, DIA akan segera mengabulkannya.

sumber foto: iszlam.com

“Aku berharap, semoga kamu menjadi yang terakhir.
Semoga kamu terus selalu menyayangi aku.
Semoga kita terus mampu saling melengkapi
Semoga kita akan terus berjalan berdampingan.
Semoga apapun permasalahan yang kelak kita hadapi, 
tak membuat kita saling menyakiti bahkan meninggalkan.

Tuhan, aku menyayanginya. Jaga hatinya hanya untukku, begitupun juga aku.
Tuhan, buat seluruh semesta merestui kami.
Ijinkanlah kami, dua orang yang penuh dosa ini untuk terus saling mengingatkan dan memperbaiki.

Ijinkanlah kami, dua orang yang jauh dari sempurna ini untuk terus saling menyayangi dan menjadi arah pulang untuk satu sama lain".

Amin.

Selasa, 19 April 2016

Bagian Pertanyaan

Untukmu, seseorang yang kerap aku perbincangkan dengan Tuhan.

Izinkan aku menyayangimu dengan sederhana.
Mungkin hanya dengan sedikit mengingatkan kamu tentang sajadah yang sudah lama rindu sujudmu, bahkan mungkin rindu air matamu.
Izinkan aku menyayangimu dengan sederhana.
Mungkin aku tak akan banyak bicara, aku hanya lebih banyak berpikir bagaimana cara membahagiakanmu melalui keadaaanku yang terbatas.

Bolehkah aku menyayangi kamu dengan sederhana?
Mungkin hanya dengan memasakanmu makanan seadanya, atau hanya dengan mengusap pundakmu ketika ku tahu kamu begitu lelah.
Bolehkah aku menyayangi kamu dengan sederhana?
Melalui peluk yang selalu ingin aku lakukan ketika bersama kamu.
Bolehkah aku menyayangi kamu dengan sederhana?
Melalui namamu yang tak pernah alpa aku sebutkan diam-diam di dalam doaku.


Bolehkah aku menyayangimu dengan caraku, Bie

Minggu, 10 April 2016

Kebahagiaan Itu..

Hitungan detik yang berubah menjadi menit, berubah menjadi hari.. minggu.. kemudian bulan.
Awal yang begitu banyak rintangan ya?
Apakah kamu menyadari itu? Atau hanya aku?
Aku bahagia bersamamu, 
ku harap kamu mampu merasakan itu.
Setiap persoalan kita hadapi bersama, aku yang hatinya mudah terpengaruh jelas menjadi sosok yang emosinya tidak stabil kemarin. 
Semoga kamu memaklumi.
Ada cemburu yang hinggap, ada takut yang kian mendekap.

Aku menyayangi kamu, aku ingin yang mampu membahagiakanmu. Hanya aku.
Persoalan terus datang, mencoba kita yang InsyaAllah serius,
Bukankah untuk menikah memang akan melalui cobaan?
Agar kita lebih kuat nanti, agar kita mampu lebih mengerti satu sama lain.
Jadi bagaimana? Sudahkah kamu mengerti aku?
Mampukah aku menerima segala tentangmu?
Seperti tulisanku di facebook, kita tak perlu banyak bicara.
Lihat saja nanti :)
Aku selalu berusaha meyakini, segalanya berjalan atas kehendakNya.
Kehadiran kamu, sikap kamu, perubahan kamu.
Allah yang menggerakkan hati kamu.
Kamu percaya setiap orang yang hadir dalam hidup kita membawa pesan?
Semoga aku adalah yang dititipkan pesan kebahagiaan untukmu. Amin.

Rabu, 06 April 2016

Halaman Kedua

Waktu terus berjalan, dan kita semakin dekat. Jauh lebih dekat.
Aku kini hanya milikmu, entah.. apakah kamu juga bersedia hanya menjadi milikku?

Hitungan hari, bulan,, kita bersama.
Permasalahan hadir dariku atau entah darimu, atau mungkin dari seseorang yang lain.
Kau berkata, aku istimewa dan wanita sepertiku hanya satu.
Setelah kejadian itu, kejadian yang membuat aku kembali kecewa.
Aku mencoba memahami keadaannya.
Aku mencoba untuk tetap memahami kamu. Semoga aku tidak salah memahami kali ini.

Bagian dari Halaman Kedua

Hari itu, hari dimana dia memberitahuku sesuatu yang kalian sembunyikan dariku.
Bohong jika aku baik-baik saja
Aku kecewa, "Kenapa kamu melakukan ini," tanyaku padamu yang ketika malam itu menemuiku.
Kamu menemuiku hanya sebentar, namun setelah aku menangis di pelukanmu waktu itu bertambah dan terus bertambah.
Dengan tangan yang gemetar, dengan suara yang berat, kamu menemuiku.
Aku tau kamu juga tidak baik-baik saja.
Aku menanyakanmu beberapa hal, sampai jawaban itu meruncing pada satu hal "nafsu" katamu.
Kamu menjelaskan padaku semuanya, sementara dia memang hanya menjelaskanku sebagian.
Aku menyayangi kamu bie.
Aku memelukmu malam itu, memastikan bahwa aku tetap rumah dan arahmu pulang, aku masih menerimamu.
Hari itu, kamu berjanji padaku.
"Kamu mau sampai kapan kaya gitu?"
"Sampai kemarin," janjimu.
**
Esoknya, kamu tidak lagi berbohong dan menunjukkan betapa munafiknya dia. Seolah kamu yang begitu menginginkannya, padahal aku mendengarnya, dia yang meminta bertemu dan dia yang begitu mencoba menggodamu.