Assalamu'alaikum suamiku yang saat ini masih bekerja keras mencari nafkah, semoga kesehatanmu terjaga. Sungguh, hal itu yang selalu aku takutkan jika kau bekerja terlalu keras.
Suamiku, kaulah idolaku dan insyaallah akan menjadi idola bagi anak anak kita kelak. Dalam setiap sujud dan doaku, aku berharap kita selalu melibatkan islam di keluarga kita. Betapa indahnya ya agama itu.
Suamiku, terimakasih telah berjuang menghalalkanku. Telah memberanikan diri meminang perempuan yang belum lama kau kenal ini.
Semoga kita selalu saling mengasihi, menyayangi, mencintai, menjaga amanah, bertanggungjawab dan terus belajar untuk bersiap menjadi orangtua yang baik.
Suamiku, masih ingat saat pertama kali keluargamu datang ke keluargaku? 30 Oktober 2016, hari yang diluar ekspektasi kita bersama yang akhirnya membawa kita pada pernikahan yang begitu cepat, Alhamdulillah.
Semoga kita mampu menjadi pasangan yang terus menjadikan islam sebagai landasan rumah tangga kita, agar kelak keluarga kita dapat kembali berkumpul di surga dalam tawa yang sama :)
Tentang Kita
Aku sering memikirkan kamu, memikirkan kita. Aku sering tak mampu berkata, maka lebih baik aku tuliskan saja
Senin, 20 Maret 2017
Jumat, 25 November 2016
Untitled
Malam ini, menjadi malam penantian menuju detik demi detik ulangtahunku yang berbeda.
Bismillah...
Insyaallah, kamu orangnya habibie.
Kamu yang akan menjadi pintu ridha ku kelak.
Kamu yang akan menjadi pentuntunku menuju iman yang lebih baik.
Kamu, calon imamku.
Bie, sayangi aku terus menerus.. tambah menambah.. luas meluas.
Jangan bosan menjadi pendengar keluhku, menjadi pelepas laraku.
Berjanjilah untuk saling yang lebih sering. Berjanjilah untuk terus memahami satu sama lain.
Aku menyayangimu, itu pasti. Dan mulai kemarin, hari ini, esok dan seterusnya.. aku taruhkan bahagiaku di pelukmu, aku taruhkan teduhku di matamu.
Aku butuh kamu.
Kamu yg akan menjadi alasanku tetap kuat diantara lemahku.
Kamu yg akan menjadi alasanku tetap tersenyum diantara semua sedihku.
Aku ingin kamu.
Bismillah...
Insyaallah, kamu orangnya habibie.
Kamu yang akan menjadi pintu ridha ku kelak.
Kamu yang akan menjadi pentuntunku menuju iman yang lebih baik.
Kamu, calon imamku.
Bie, sayangi aku terus menerus.. tambah menambah.. luas meluas.
Jangan bosan menjadi pendengar keluhku, menjadi pelepas laraku.
Berjanjilah untuk saling yang lebih sering. Berjanjilah untuk terus memahami satu sama lain.
Aku menyayangimu, itu pasti. Dan mulai kemarin, hari ini, esok dan seterusnya.. aku taruhkan bahagiaku di pelukmu, aku taruhkan teduhku di matamu.
Aku butuh kamu.
Kamu yg akan menjadi alasanku tetap kuat diantara lemahku.
Kamu yg akan menjadi alasanku tetap tersenyum diantara semua sedihku.
Aku ingin kamu.
Minggu, 11 September 2016
Bagian Ketakutanku
Kemarin, betapa aku takut kehilanganmu.
Pikiranku disibukkan oleh hal hal yang menakutkan, bagaimana jika kita tak lagi ada?
Padahal seharusnya aku sadar, abadi memang tidak pernah ada. Tapi untukmu, setidaknya aku ingin bersama selama yang aku bisa.
Saat ketakutan memenuhi isi kepalaku, aku menemui Tuhanku. Memperbincangkan kamu denganNya.
MemintaNya agar aku dan kamu saling memantaskan satu sama lain.
Agar aku dan kamu tidak saling meninggikan ego, melainkan sibuk memahami.
Ketika salah satu dari kita dipeluk amarah, berjanjilah.. pergi bukan menjadi pilihan.
Ketika salah satu dari kita dirundung kecewa, berjanjilah.. pergi bukan menjadi pilihan.
Aku dan kamu, sibuklah saling mendengarkan bukan berbicara paling kencang.
Aku dan kamu, sibuklah saling menatap lebih dalam bukan memalingkan pandangan.
Karena aku tak mau lagi kehilangan, apalagi yang seperti kamu.
Maafkan semua kelemahan dan kekurangan aku, bukan mauku. Mungkin itu tujuan Tuhan mengirimkanmu, memperbaiki aku.
Karena aku tak mau kita saling menyesal, setelah keadaan bukan lagi milik kita.
Maafkan semua sikap dan sifat aku, terlepas dari aku manusia biasa, aku juga wanita yang tak pandai mengucap kata.
Aku sayang kamu bie, jangan pergi.
Pikiranku disibukkan oleh hal hal yang menakutkan, bagaimana jika kita tak lagi ada?
Padahal seharusnya aku sadar, abadi memang tidak pernah ada. Tapi untukmu, setidaknya aku ingin bersama selama yang aku bisa.
Saat ketakutan memenuhi isi kepalaku, aku menemui Tuhanku. Memperbincangkan kamu denganNya.
MemintaNya agar aku dan kamu saling memantaskan satu sama lain.
Agar aku dan kamu tidak saling meninggikan ego, melainkan sibuk memahami.
Ketika salah satu dari kita dipeluk amarah, berjanjilah.. pergi bukan menjadi pilihan.
Ketika salah satu dari kita dirundung kecewa, berjanjilah.. pergi bukan menjadi pilihan.
Aku dan kamu, sibuklah saling mendengarkan bukan berbicara paling kencang.
Aku dan kamu, sibuklah saling menatap lebih dalam bukan memalingkan pandangan.
Karena aku tak mau lagi kehilangan, apalagi yang seperti kamu.
Maafkan semua kelemahan dan kekurangan aku, bukan mauku. Mungkin itu tujuan Tuhan mengirimkanmu, memperbaiki aku.
Karena aku tak mau kita saling menyesal, setelah keadaan bukan lagi milik kita.
Maafkan semua sikap dan sifat aku, terlepas dari aku manusia biasa, aku juga wanita yang tak pandai mengucap kata.
Aku sayang kamu bie, jangan pergi.
Rabu, 13 Juli 2016
Dengarkan Ini ..
Teruntukku dan teruntuk kamu..
Semoga kita semakin menyederhanakan komunikasi.
Bukan lagi sepasang penebar "kode", atau bersembunyi dibalik kata "gapapa".
Semoga kita lebih sibuk mengalah, daripada mencari siapa yang bersalah.
Semoga kita semakin pandai menegur dengan cara yang baik, bukan lagi menuduh siapa yang paling egois dan tersakiti.
Karena percayalah, kita sepasang yang saling menyayangi. Tak ada diantara kita yang berniat menyakiti. Hanya karena kita manusialah, terkadang ego itu hadir dan mendominasi.
Perbaiki aku dengan cara mengingatkanku dengan santun, begitupun sikapku terhadapmu.
Semoga dengan begitu, "Kita" akan selalu ada dan semakin mendewasa.
Amin..
Selasa, 14 Juni 2016
Jangan Hilangkan Dia
"Jangan pernah hilangkan dia dalam hidupku," kurang lebih ini doaku malam ini.
Aku ga mau kehilangan kamu bie, aku ga mau kehilangan 'kisah kita'.
Telah mengertikah kamu? Jika setiap tetes air mata yang jatuh, adalah karena aku takut kehilangan kamu.
Aku ingin memenuhi buku hidupku, dengan coretan cerita bersama ukiran namamu.
"Ary Nuryanto", kali ini ku sebut dengan jelas namamu dalam doaku. Agar Tuhan tak lagi meragukan inginku untuk selalu bersamamu.
Sampai semesta merestui, maukah kamu berjanji untuk terus menjagaku dan kisah kita?
Tuhan, jangan hilangkan dia.. karena mungkin hanya dia sosok yang bisa membuatku seperti ini, yang mungkin tak akan pernah bisa tergantikan oleh siapa pun. Dan, tak ingin aku gantikan posisinya oleh siapa pun.
Tuhan, Jangan hilangkan rasa sayangnya untukku, begitupun.. jangan hilangkan rasa sayangku untuknya.
Kamu masih ingat, malam yang membuatku mengatakan "aku takut mengecewakanmu"?
Aku memang tidak mau menyakitimu, karenanya aku menjauhi hal-hal yang aku takutkan akan membuatmu pergi.
Lagi-lagi, ini hanya karena aku takut kehilangan kamu.
Maafkan aku yang belum mampu menjadi yang terbaik bagimu. Maafkan aku yang memiliki banyak kurang untuk mampu melengkapimu.
Aku berjanji untuk terus belajar memperbaiki diri, untuk kamu, untuk kita.
Maafkan aku yang belum mampu menjadi yang terbaik bagimu. Maafkan aku yang memiliki banyak kurang untuk mampu melengkapimu.
Aku berjanji untuk terus belajar memperbaiki diri, untuk kamu, untuk kita.
Hay semesta, buatlah kami menjadi pelengkap satu sama lain.
Buatlah kami menjadi pengingat satu sama lain, buatlah kami untuk terus saling memperbaiki. Buatlah hubungan ini, membawa kebaikan. Kebaikan yang tidak hanya untukku atau pun dia, tapi untuk setiap orang disamping kami.
Tuhan, mampukan kami untuk terus saling berbagi tangis dan tawa.
Sungguh.. izinkan aku menjadi orang yang pertama kali kamu peluk ketika sendu itu hadir. Orang yang pertama kali kamu berikan senyum, saat kebahagiaan itu datang.
Tuhan, aku mohon jangan hilangkan dia. Jangan hilangkan "kita" antara aku dan dia.
Selasa, 24 Mei 2016
Tuhan, aku mau dia ...
Hei, terimakasih untuk waktu, tenaga, biaya dan segalaaanya yang telah kamu upayakan untukku.
Bukan hanya untuk hari ini, tapi sedari awal kamu mendekatiku (hahahaaa :p)
Aku bahagia. Berhenti mengatakan, kamu gagal membahagiakanku. Sungguh itu aku tidak suka, melebihi ketidaksukaanku terhadap bubur.
Aku bahagia, entah apa alasannya. Mungkin selama itu denganmu, semuanya akan terasa menyenangkan dan baik-baik saja.
Kemarin itu, perjalanan yang begitu melelahkan, sampai-sampai kamu menemukanku tertidur seperti ...
ah sudahlah -_-"
ah sudahlah -_-"
![]() |
| foto: pinterest.com |
Kamu mungkin pernah menemukanku terdiam. Ku akui, kala itu aku tengah bergumam dalam hati.
“Tuhan, aku mau dia ... ”
Aku mau kamu, menjadi pendampingku, belajar bersama tentang agama, lalu berlomba-lomba mengamalkannya.
Aku menjaga amanahmu, kamu menjaga amanahku.
Aku mau kamu, seseorang yang kelak ku panggil ayah dihadapan anak-anak kita, mengajarkan mereka bahwa hidup jangan melaju monoton.
Aku menjaga ridhamu, kamu menjaga ridhaku.
Aku mau kamu, seseorang yang terus menggenggam dan mengelus kepalaku seraya mengucap “sayang”, hingga tubuh ini merenta, hingga rambut ini memutih.
Aku menjaga kamu, kamu menjaga aku.
Namun, kemudian aku tersadar, betapa malunya aku yang memohon begitu banyak dan menyakitiNya begitu dalam.
Mungkin malaikat disampingku berkata
“hey dengar si pendosa ini, masih saja meminta kepada Tuhan yang disakitinya,” dengan terkekeh kekeh dia menertawakanku, seolah aku si pendosa tak punya malu, yang masih saja meminta bantuanMu.
“hey dengar si pendosa ini, masih saja meminta kepada Tuhan yang disakitinya,” dengan terkekeh kekeh dia menertawakanku, seolah aku si pendosa tak punya malu, yang masih saja meminta bantuanMu.
Tuhan..
Ternyata, aku si makhluk lemah yang tak mampu berbuat apa-apa, dan melawan segalanya.
Tuhan, aku mau dia.
Masih bisakah aku dan dia memperbaiki semuanya? Memantaskan satu sama lain untuk kemudian bersujud dan mengamini doa bersama.
Rabu, 11 Mei 2016
Saat Masa Itu Habis
Hey, selamat pagi kamu..
Sudahkah mengirimiku ucapan selamat pagi seperti biasa, yang
selalu kau lakukan saat membuka mata?
Kalau belum, tak apa. Aku mengerti, kamu pasti lelah karena
selalu menemaniku hingga larut malam, melakukan perjalanan puluhan kilometer
setiap hari diantara kemacetan ibu kota.
Terimakasih. Itu sudah lebih dari cukup.
Sedang apa kamu?
Membuka facebook? Membalas whatsapp? Atau tengah membuka
browser?
(Pastinya membuka browser, jika kamu tengah membaca tulisan ini ya, hehehe)
(Pastinya membuka browser, jika kamu tengah membaca tulisan ini ya, hehehe)
Entahlah, apapun itu.. aku hanya berharap pagi ini kamu
memulai harimu dengan bijaksana.
Bie,
aku tak akan pernah mampu menjagamu selamanya.
Ragaku terbatas, jiwaku terbatas, suatu saat masaku akan
habis.
Aku sering membayangkan ini.
Bagaimana jika aku sudah tak mampu lagi memperhatikan dan
menjagamu?
Aku mengkhawatirkanmu.
Karenanya, aku membuat halaman demi halaman kisah kita.
Ku tahu,
aku mengerti, tak akan ada yang pernah abadi. Termasuk raga ini.
Setidaknya kelak, saat kamu membaca setiap halaman ini, kamu tahu ada seseorang yang menyayangimu seperti aku, ada seseorang yang telah jauh jauh hari menitipkanmu pada yang Maha Abadi.
Dan semoga dalam setiap perapalan katanya, membuat aku, seketika ada.
Aku sering meminta Tuhan untuk tetap menjaga
hatimu untuk terus memperbaiki diri.
Aku ingin kamu selamat, itu saja.
Meski aku tak sempurna, namun aku ingin menyempurnakan
kisahmu bie.
Aku ingin kau jauh lebih baik dan lebih baik, bukan untukku, tapi untukmu, untuk setiap kisahmu yang mungkin akan kamu lalui tanpa aku.
Mungkin saat itu, kamu sudah dilindungi anakmu, anak kita, hihiii :)
Bie,
Aku ingin mampu selalu
menjagamu, meski raga tak lagi ada.
Maka tak ada jalan lain, selain meminta kepada Tuhan kita yang begitu Pemurah dan Penyayang.
Tuhan yang mempunyai maaf yang lapang, padahal kita hanyalah sepasang pendosa.
Tuhan yang membuat kisah ini ada.
Maka tak ada jalan lain, selain meminta kepada Tuhan kita yang begitu Pemurah dan Penyayang.
Tuhan yang mempunyai maaf yang lapang, padahal kita hanyalah sepasang pendosa.
Tuhan yang membuat kisah ini ada.
Eh, maaf ya pagi-pagi udah cerita horror, hehheee.
Sudah, sudah... aku masih ada dan akan selalu ada, Insya Allah.
Selamat pagi, selamat bekerja!!
Semoga selalu semangat dan menyenangkan, Bismillah.
Aku sayang kamu.
Langganan:
Postingan (Atom)






