Selasa, 24 Mei 2016

Tuhan, aku mau dia ...

Hei, terimakasih untuk waktu, tenaga, biaya dan segalaaanya yang telah kamu upayakan untukku.
Bukan hanya untuk hari ini, tapi sedari awal kamu mendekatiku (hahahaaa :p)
Aku bahagia. Berhenti mengatakan, kamu gagal membahagiakanku. Sungguh itu aku tidak suka, melebihi ketidaksukaanku terhadap bubur.
Aku bahagia, entah apa alasannya. Mungkin selama itu denganmu, semuanya akan terasa menyenangkan dan baik-baik saja.
Kemarin itu, perjalanan yang begitu melelahkan, sampai-sampai kamu menemukanku tertidur seperti ...
ah sudahlah -_-"

foto: pinterest.com

Kamu mungkin pernah menemukanku terdiam. Ku akui, kala itu aku tengah bergumam dalam hati.
“Tuhan, aku mau dia ... ”
Aku mau kamu, menjadi pendampingku, belajar bersama tentang agama, lalu berlomba-lomba mengamalkannya.
Aku menjaga amanahmu, kamu menjaga amanahku.

Aku mau kamu, seseorang yang kelak ku panggil ayah dihadapan anak-anak kita, mengajarkan mereka bahwa hidup jangan melaju monoton.
Aku menjaga ridhamu, kamu menjaga ridhaku.

Aku mau kamu, seseorang yang terus menggenggam dan mengelus kepalaku seraya mengucap “sayang”, hingga tubuh ini merenta, hingga rambut ini memutih.
Aku menjaga kamu, kamu menjaga aku.

Namun, kemudian aku tersadar, betapa malunya aku yang memohon begitu banyak dan menyakitiNya begitu dalam.
Mungkin malaikat disampingku berkata
“hey dengar si pendosa ini, masih saja meminta kepada Tuhan yang disakitinya,” dengan terkekeh kekeh dia menertawakanku, seolah aku si pendosa tak punya malu, yang masih saja meminta bantuanMu.
Tuhan..
Ternyata, aku si makhluk lemah yang tak mampu berbuat apa-apa, dan melawan segalanya.
Tuhan, aku mau dia.
Masih bisakah aku dan dia memperbaiki semuanya? Memantaskan satu sama lain untuk kemudian bersujud dan mengamini doa bersama.


Rabu, 11 Mei 2016

Saat Masa Itu Habis

Hey, selamat pagi kamu..
Sudahkah mengirimiku ucapan selamat pagi seperti biasa, yang selalu kau lakukan saat membuka mata?
Kalau belum, tak apa. Aku mengerti, kamu pasti lelah karena selalu menemaniku hingga larut malam, melakukan perjalanan puluhan kilometer setiap hari diantara kemacetan ibu kota.
Terimakasih. Itu sudah lebih dari cukup.

Sedang apa kamu?
Membuka facebook? Membalas whatsapp? Atau tengah membuka browser?
(Pastinya membuka browser, jika kamu tengah membaca tulisan ini ya, hehehe)
Entahlah, apapun itu.. aku hanya berharap pagi ini kamu memulai harimu dengan bijaksana.

Bie, 
aku tak akan pernah mampu menjagamu selamanya.
Ragaku terbatas, jiwaku terbatas, suatu saat masaku akan habis.


Aku sering membayangkan ini.
Bagaimana jika aku sudah tak mampu lagi memperhatikan dan menjagamu?
Aku mengkhawatirkanmu.
Karenanya, aku membuat halaman demi halaman kisah kita. 
Ku tahu, aku mengerti, tak akan ada yang pernah abadi. Termasuk raga ini.

Setidaknya kelak, saat kamu membaca setiap halaman ini, kamu tahu ada seseorang yang menyayangimu seperti aku, ada seseorang yang telah jauh jauh hari menitipkanmu pada yang Maha Abadi.
Dan semoga dalam setiap perapalan katanya, membuat aku, seketika ada.

Aku sering meminta Tuhan untuk tetap menjaga hatimu untuk terus memperbaiki diri.
Aku ingin kamu selamat, itu saja.
Meski aku tak sempurna, namun aku ingin menyempurnakan kisahmu bie.
Aku ingin kau jauh lebih baik dan lebih baik, bukan untukku, tapi untukmu, untuk setiap kisahmu yang mungkin akan kamu lalui tanpa aku.
Mungkin saat itu, kamu sudah dilindungi anakmu, anak kita, hihiii :)

Bie,
Aku ingin mampu selalu menjagamu, meski raga tak lagi ada.
Maka tak ada jalan lain, selain meminta kepada Tuhan kita yang begitu Pemurah dan Penyayang.
Tuhan yang mempunyai maaf yang lapang, padahal kita hanyalah sepasang pendosa.
Tuhan yang membuat kisah ini ada.

Eh, maaf ya pagi-pagi udah cerita horror, hehheee.
Sudah, sudah... aku masih ada dan akan selalu ada, Insya Allah.

Selamat pagi, selamat bekerja!!

Semoga selalu semangat dan menyenangkan, Bismillah.
Aku sayang kamu.

Kamis, 05 Mei 2016

Bagian Pengharapan


Aku sayang kamu..
Entah sudah berapa kali kalimat ini kau dengar dariku.
Kau tau?
Diam-diam, seringkali aku berterimakasih kepada Tuhan yang telah mempertemukanku denganmu.
Dan diam-diam pula aku seringkali mengucap doa, saat mata kita saling terpaut dalam diam.
Kedekatan denganmu adalah bukan sesuatu yang aku rencanakan.
Karenanya, aku percaya ada campur tangan Tuhan disini.
Seperti layaknya sebuah rencanaNya yang selalu indah.
Aku berharap, tulisan tulisan denganmu akan selalu berisi narasi yang indah.
Aku berharap, tak ada lagi air mata karena kebodohan yang hanya akan melahirkan penyesalan.

Aku berharap, kita akan selalu menjadi kita.
Seumur hidup, hingga salah satu dari kita menghembuskan nafas terakhir.
Aku berharap, kita akan menjadi sepasang manusia yang sibuk saling memperbaiki bukan menyalahkan.
Sepasang manusia yang sibuk saling menuntun bukan menuntut.

Semoga kita adalah sepasang manusia yang selalu keras kepala untuk tetap menjadi "Kita".

Senin, 02 Mei 2016

Seketika Aku Ingin

foto: http://www.magic4walls.com/

Seketika aku ingin menjadi tanah yg kau pijak, 
selalu tau kemana arah yang kau ambil.
Hingga tak perlu lagi ku sematkan ribuan tanda tanya, 
tentang apa yang sedang ingin kau jalani.

Seketika aku ingin menjadi langit yang kau lihat.
Hingga aku selalu tau tentang apa yang membuatmu risau atau tersenyum.

Seketika aku ingin menjadi semua yang ada di sekitarmu.
Hingga selalu bisa ku menatap mata yang mampu tenangkanku itu.

Seketika aku ingin menjadi semua yang ada di dekatmu.
Hingga mampu ku pastikan, kau telah bahagia bersamaku.