Hei, terimakasih untuk waktu, tenaga, biaya dan segalaaanya yang telah kamu upayakan untukku.
Bukan hanya untuk hari ini, tapi sedari awal kamu mendekatiku (hahahaaa :p)
Aku bahagia. Berhenti mengatakan, kamu gagal membahagiakanku. Sungguh itu aku tidak suka, melebihi ketidaksukaanku terhadap bubur.
Aku bahagia, entah apa alasannya. Mungkin selama itu denganmu, semuanya akan terasa menyenangkan dan baik-baik saja.
Kemarin itu, perjalanan yang begitu melelahkan, sampai-sampai kamu menemukanku tertidur seperti ...
ah sudahlah -_-"
ah sudahlah -_-"
![]() |
| foto: |
Kamu mungkin pernah menemukanku terdiam. Ku akui, kala itu aku tengah bergumam dalam hati.
“Tuhan, aku mau dia ... ”
Aku mau kamu, menjadi pendampingku, belajar bersama tentang agama, lalu berlomba-lomba mengamalkannya.
Aku menjaga amanahmu, kamu menjaga amanahku.
Aku mau kamu, seseorang yang kelak ku panggil ayah dihadapan anak-anak kita, mengajarkan mereka bahwa hidup jangan melaju monoton.
Aku menjaga ridhamu, kamu menjaga ridhaku.
Aku mau kamu, seseorang yang terus menggenggam dan mengelus kepalaku seraya mengucap “sayang”, hingga tubuh ini merenta, hingga rambut ini memutih.
Aku menjaga kamu, kamu menjaga aku.
Namun, kemudian aku tersadar, betapa malunya aku yang memohon begitu banyak dan menyakitiNya begitu dalam.
Mungkin malaikat disampingku berkata
“hey dengar si pendosa ini, masih saja meminta kepada Tuhan yang disakitinya,” dengan terkekeh kekeh dia menertawakanku, seolah aku si pendosa tak punya malu, yang masih saja meminta bantuanMu.
“hey dengar si pendosa ini, masih saja meminta kepada Tuhan yang disakitinya,” dengan terkekeh kekeh dia menertawakanku, seolah aku si pendosa tak punya malu, yang masih saja meminta bantuanMu.
Tuhan..
Ternyata, aku si makhluk lemah yang tak mampu berbuat apa-apa, dan melawan segalanya.
Tuhan, aku mau dia.
Masih bisakah aku dan dia memperbaiki semuanya? Memantaskan satu sama lain untuk kemudian bersujud dan mengamini doa bersama.

So sweet
BalasHapusSo sweet
BalasHapus